Jumat, 26 Desember 2014

Fakta-fakta Demam Bayi



Untuk mengenali gejala demam pada bayi, hal pertama yang berubah secara signifikan adalah suhu badan anak. Karena itu, Mama perlu menyediakan termometer di rumah. Jenis termometer yang bisa disimpan, seperti termometer digital atau termometer yang mengukur suhu melalui telinga, sehingga Anda mengetahui temperatur anak secara akurat.

Ketahui beberapa gejala dan fakta mengenai demam atau suhu badan anak meningkat, berikut ini:

Suhu tubuh anak di atas 37,5 derajat Celcius sudah dapat dinyatakan demam.

• Pada bayi berusia di bawah 3 bulan, suhu tubuh di atas 37 derajat Celcius, bawalah ke dokter segera mungkin.

• Bila bayi berusia 6 bulan ke bawah dan memiliki temperatur 38,5 derajat Celcius, cepatlah melakukan tindakan, seperti mengompres, terus memberi ASI atau membawanya ke dokter.

• Bila bayi berusia 6 bulan ke atas, Anda bisa mengobservasi anak dan melihat keadaan anak keesokan harinya.

• Suhu badan panas merupakan tindakan badan untuk melawan kuman, apabila bayi Anda tidak terlihat terganggu dengan demamnya, tidak perlu langsung memberikan obat antibiotik. Diskusikan lagi dengan dokter. Sebaiknya lagi pilih dokter yang tidak mudah memberikan antibiotik pada anak.

• Jika bayi berusia 3-6 bulan dan tidak sering menangis dan masih sering diberikan cairan, tidak perlu langsung ke dokter. Observasi dan lakukan penangangan demam di rumah.

Kenali 6 Tanda Bayi Sakit



Terdapat beberapa cara agar Mama dapat mengenali gejala bayi mulai sakit, antara lain:

1. Anak mengalami demam di atas 37,5 derajat Celcius.

2. Muncul ruam. Bila bertambah banyak, segera konsultasikan ke dokter.

3. Tidak responsif saat diajak bercanda atau bermain.

4. Anak menangis tanpa terlihat jelas penyebab, biasanya tangisan anak sakit memiliki beberapa ciri yaitu:
  - Suara tangisan melengking
  - Merintih, seperti menahan sakit

5. Bayi dehidrasi, salah satu gejalanya dapat dilihat dari:
  - Pipis sedikit
  - Kulit, mulut dan bibir bayi kering
  - Anak terlihat lesu
  - Diare ( apabila disertai diare anak perlu segera dibawa ke rumah sakit)

6. Terakhir, percaya pada intuisi Anda. Bila Mama merasa ada sesuatu yang tidak beres atau kondisi bayi berbeda dari biasanya, coba bawa anak ke rumah sakit.

Kegiatan Eksplorasi Bayi



Pada usia 5 hingga 8 bulan anak mulai memiliki postur duduk yang baik, saat inilah anak akan mulai untuk mencoba bersandar dan meraih. Anak mulai mencondongkan badannya untuk mengambil mainan yang sudah ia incar, mulai mengeksplorasi dengan tubuhnya seperti memasukkan barang ke dalam mulut.

Anak juga mulai mencari tahu limit pergerakkan dirinya dengan selalu berusaha lebih jauh seperti mencoba menggenggam barang sebanyak-banyaknya.

Maka dari itu pada masa ini sebaiknya Mama jangan berusaha untuk membantu anak dengan mengambilkan mainan yang ingin ia raih, malah sebaiknya Anda ciptakan permainan dengan menaruh mainan bervariasi di sekeliling anak sehingga ia akan mencoba untuk menggapai dan mengetahui beragam jenis mainan.

Dengan kegiatan duduk dan meraih, anak dapat mengasah beberapa hal seperti;
• Memperkuat otot-otot tubuh
• Belajar bahwa dengan usaha ia akan berhasil
• Meningkatkan keterampilan spasial
• Membangun kekuatan dan koordinasi untuk mulai merangkak
• Duduk menjadi lebih stabil

Agar Kepala Bayi Terbentuk Sempurna



Nah, agar kepala anak dapat terbentuk sempurna, coba lakukan hal berikut:

- Ubah posisi tidur. Para dokter anak tetap menyarankan agar anak tidur dengan posisi terlentang. Namun, coba variasikan arah anak membelokkan kepalanya. Putar juga arah tidurnya sesekali (kepala di bagian kaki, dan sebaliknya).

- Tummy time. Dengan penuh pengawasan, tengkurapkan anak agar ia dapat menahan tubuhnya dengan bagian perut. Perbanyak kegiatan ini saat anak sedang bisa diajak bermain. Selain dapat mengembangkan fontanel belakang yang rata, kegiatan ini juga bisa membentuk otot leher dan bahu anak, Ini baik untuk tumbuh kembang anak ke depan seperti duduk dan merangkak.

Sindroma Kepala Datar pada Bayi




Sindroma kepala datar atau flat head syndrome sering dialami oleh bayi. Orang banyak menyebutnya dengan istilah ‘kepala peyang’. Kondisi ini timbul karena posisi kepala yang terlalu lama di satu sisi yang sama.

Ada 2 jenis sindroma kepala datar yang bisa terjadi pada bayi, yaitu:

• Plagiochepaly (perataan pada tengkorak bayi). Terjadi karena distorsi asimetris tulang kepala atau merata di satu sisi kepala. Hal ini biasanya disebabkan karena posisi telentang di satu sisi yang terlalu lama.

• Tortikolis (ketidakseimbangan pada otot leher). Biasanya ditandai dengan nyeri yang hilang timbul atau kejang yang terus menerus pada otot-otot leher, sehingga mendorong kepala berputar dan miring ke depan, ke belakang, atau ke samping.

Sindrom akepala datar ini bisa membuat bentuk kepala bayi tidak indah, apalagi jika bayi Anda tidak berambut alias botak. Bentuk kepala datarnya akan semakin terlihat jelas. Dalam jangka panjang, sindrom kepala datar dapat berpengaruh kepada kemampuan penglihatan, pendengaran, kognitif, dan keterlambatan motorik. Sindrom ini semakin banyak dialami oleh bayi. Diperkirakan sekitar 48% bayi di usia 5 bulan mengalami masalah dengan kepala datar.

Bisakah dicegah? Tentu saja, Ma. Salah satu cara pencegahan yang paling sederhana adalah dengan mengubah posisi tidur bayi secara berkala. Jangan biarkan bayi terus-menerus tidur atau berbaring dalam posisi telentang. Sesekali, Anda boleh, kok, memiringkannya, atau menidurkannya dalam kondisi tengkurap.

Atau, bisa juga Anda memakaikannya topi khusus yang memang diciptakan untuk menyokong pergerakan kepala dan leher bayi sehingga terhindar dari sindroma kepala datar.

Penyebab Gigi Anak Bisa Keropos

 
Pernah melihat anak kecil dengan gigi hitam bahkan keropos? Rasanya cukup sering ya, Ma. Tak hanya di Indonesia, bahkan di Australia pun para dokter gigi melihat kenaikan jumlah kasus gigi rusak pada bayi usia 12 bulan. Selain gigi berlubang, banyak juga kasus kerusakan email gigi pada anak-anak.

Email adalah lapisan luar yang melindungi gigi. Ada anak-anak yang emailnya kurang bagus sehingga mereka lebih rentan mengalami gigi sensitif dan gigi berlubang. Masalah email gigi ini bisa disebabkan oleh banyak hal, misal: penyakit yang diderita mama dan obat yang dikonsumsi saat mengandung, kelahiran prematur, atau penyakit yang diderita saat bayi.

Namun penyebab paling sering dari kerusakan gigi pada bayi adalah pemberian susu dengan botol, baik itu susu formula maupun ASI. Kedua jenis susu tersebut sama-sama mengandung laktosa, satu jenis gula yang bersama plak gigi akan menyebabkan pengikisan email gigi susu hingga akhirnya gigi berlubang.

Hal ini akan terjadi jika Anda sering membiarkan anak tidur sambil minum susu dengan botol. Meningkatnya konsumsi makanan dan minuman dengan kadar gula tinggi seperti sari buah juga berperan dalam menyebabkan kerusakan gigi pada anak.

Kapan Gigi Susu Tumbuh?

 
 
Pada usia berapa gigi susu anak tumbuh?

Gigi susu mulai terbentuk saat janin baru berusia 6 minggu dan sudah lengkap sempurna saat bayi dilahirkan. Gigi pertama tumbuh saat bayi berusia antara 6 - 9 bulan. Pada usia 3 tahun biasanya semua gigi susu sudah tumbuh secara lengkap.

Gigi susu bertahan cukup lama dalam masa pertumbuhan anak. Gigi depan akan mulai tanggal pada usia 6 atau 7 tahun, sedangkan gigi-gigi geraham akan tanggal ketika anak berusia 12 atau 13 tahun.

Gigi susu berperan penting untuk menentukan posisi tumbuh gigi tetap nantinya. Jangan lupa, gigi sangat diperlukan untuk menggigit dan mengunyah makanan demi tumbuh-kembang anak.

Beberapa penelitian menemukan bahwa anak-anak yang giginya rusak lebih besar kemungkinan mengalami masalah dalam pertumbuhannya dan lebih rentan menderita obesitas. Itu karena masalah pada gigi bisa  mempengaruhi selera makan anak (pasti tak enak kan, harus makan saat sakit gigi), juga membuat proses pencernaan makanan kurang sempurna.

Penyakit pada gusi juga bisa terkait dengan penyakit jantung di kemudian hari. Maka dari itu, Mama harus benar-benar merawat gigi anak sejak baru tumbuh.